Nilai-nilai Calendar Of Events


Sebuah agenda peristiwa wisata, – yang di kalangan kepariwisataan dikenal sebagai Calendar Of Events (CoE) -, seyogyanya akan mampu menjadi “pemicu” pertumbuhan kepariwisataan di suatu daerah atau destinasi, mengingat CoE merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk:
a. Datang ke tempat tsb.;
b. Memperpanjang masa tinggal di tempat tsb, sehingga pd gilirannya
c. Memperbanyak pengeluaran (belanjanya) di tempat tsb., baik utk makan, minum, penginapan, transportasi dsb.

Event Communications Value

Menjelang tahun 2020 ini, agaknya kita sudah harus memikirkan untuk meluncurkan sebuah agenda peristiwa wisata, – Calendar Of Events (CoE). Agenda ini sejatinya sudah beredar di pasar pariwisata dunia paling lambat 6 bln sebelum tahun berganti.
Calendar of Events (CoE / Kalender Acara) merupakan andalan bagi keberhasilan penyelenggaraan pariwisata di suatu Daerah, – Provinsi, Tujuan/Destinasi Wisata (Tourist Destination). Calendar of Events lazimnya berbentuk Agenda (bergambaar, dalam tatawarna), berisi “Daftar Rangkaian Peristiwa” yang sengaja diselenggarakan atau yang secara alamiah terselenggara sebagai suatu bagian dari kehidupan dan / atau kebiasaan masyarakat setempat secara berkala (mingguan, bulanan, tahunan) yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik pengunjung, baik lokal, regional maupun global. Events yang dirancang untuk memikat pengunjung ini, – baik domestik maupun mencanegara -, lazimnya disebut sebagai “Tourism Events” atau “Agenda Pariwisata”. Continue reading

Advertisements

Pemasaran Pariwisata Offline atau Online (Lanjutan)


Artikel ini merupakan kelanjutan daripada artikel terdahulu berjudul “Pemasaran Pariwisata Offline atau Online”, sebagaimana dijanjikan di akhir tulisan tersebut. Di dalamnya mengutarakan antara lain pernyataan seorang ahli Pemasaran Indonesia, Hermawan Kartajaya yang menulis dalam bukunya berjudul “Citizen 4.0” bahwa di era digital ini, dan dalam rangka Pemasaran, kita dihadapkan pada 3 realita Paradoxal (seakan berlawanan tetapi menyatu), yaitu :

  1. Online vs Offline,
  2. Style with Substance, dan
  3. Machine and Human.

Di bawah ini, diuraikan lebih lanjut mengenai Paradoxal yang ke-2 dan ke-3 dalam kaitannya dengan tulisan Wuryastuti Sunario yang berjudul “Memadukan Pemasaran Tradisional dengan Digital Tourism Marketing” sebagaimana berikut ini.

Memadukan Pemasaran Tradisional dengan Digital Tourism Marketing
Oleh
Wuryastuti Sunario

(Lanjutan)

Paradox 2: Substance vs Packaging

Waktu kita menyajikan produk dan jasa maka diperlukan tulisan dan penjelasan yang mampu memukau pembaca dan memberi keterangan yang diperlukan (yang disebut substance, atau “berisi”). Tetapi informasi tersebut masih perlu juga dibungkus secara menarik, dilengkapi dengan foto dan video yang diambil secara profesional dan yang langsung mempesona pembaca sehingga ia akan langsung tertarik untuk membeli tour atau jasa lain yang kita sajikan.
Continue reading

Generational Marketing – Bagian 2


Kita mengerti bahwa dalam Era Industri 4.0 segala sesuatu menjurus pada digitalisasi. Dan, selama ini kita dihadapkan pada 5 generasi yang berbeda, sebagaimana diutarakan terdahulu, yaitu: 1. Silent generation; 2. Baby Boomers; 3. Generation X; 4. Generation Y; dan 5. Generation Z.
Dalam hal pemasaran pariwisata, mau tidak mau harus mempertimbangkan generasi-generasi tersebut agar mencapai hasil sebagaimana diharapkan.
Mengingat pola pikir tiap generasi berbeda jauh satu dengan lainnya, antara generasi itu terdapat kesenjangan (gap), – terutama antara generasi Baby Boomers dengan generasi-X dan generasi -Y.
Di satu sisi generasi Baby Boomers masih dipengaruhi oleh pola pikir lama (konvensional), di sisi lain generasi-X dan generasi-Y sangat dipengaruhi oleh pola pikir digital yg serba mudah, serba cepat, bahkan seringkali tidak menghiraukan adanya rintangan.
Nah, dalam hal pengelolaan pemasaran, – termasuk pariwisata -, para pemegang kewenangan sebagian besar terdiri dari Baby Boomers di mana masih ada yg berpola pikir konvensional tadi. Sementara pasar sudah menghendaki penanganan yg serba mudah dan cepat dengan pola pikir digital.
Namun, bagaimana pun di pasar masih terdapat potensi yg cukup besar dari generasi lama (Baby Boomers) yg perlu dilayani, walau dengan proses digital sekali pun. Dan, generasi ini memiliki kemampuan financial yg jauh lebih kuat dan mempunyai cukup waktu untuk berlibur di banding dengan generasi yg lebih muda (generasi X dan Y).
Melanjutkan artikel terdahulu mengenai “Generational Marketing”, di bawah ini disampaikan bagian ke-2 dari artikel tersebut.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan dari berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 2.
Profil Generation X, the Silent Generation, dan Generation Z

Generation X

Generation X

Peran computer dan digitalisasi di dunia, – tak terkecuali di Indonesia -, sudah tidak terelakkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, dunia sudah memasuki Industrial Revolution 4.0 yang dipicu sejak teknologi analog beralih ke teknologi digital, yang telah merobah cara dunia berkomunikasi satu sama lain. Sekarang orang tidak perlu bertatap muka untuk berkomunikasi. Siapa saja bisa mencari informasi tanpa bersusah payah ke perpustakaan, dan dengan mudah dan cepat bisa mendapatkannya di Google; untuk membuat laporan lengkap dengan photo dan video bahkan dengan suara, petugas hanya perlu kirim via laptop ke siapapun; bagi penumpang yang memesan dan membayar tiket pesawat, atau membayar apapun, cukup dari tilpun di genggam.
Segala bisa berlangsung dengan capat dan mudah, dengan satu syarat: asal tau tombol mana yang harus ditekan.
Hal ini dengan sendirinya sangat membingungkan generasi yang lebih tua yang merasa seakan harus mulai belajar teknologi ini dari awal dengan menanggalkan semua kebiasaan yang sudah pernah dipelajarinya. Ini sangat jauh banding waktu mereka nilpun dari rumah dengan tilpun analog, mengetik dengan mesin tik manual, dan ngantre ke bank untuk mengirim uang. Continue reading

Generational Marketing – Bagian 1


Banyak ahli, cendekiawan dan kalangan industri menilai bahwa dewasa ini kita sedang berada dalam transisi menuju Era Industri 4.0. Bahkan di kalangan pemerintah pun mau tidak mau harus mempelajari dan memahaminya serta mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masa kini yang serba digital dan serba cepat. Jika tidak menyesuaikan diri, maka bersiaplah untuk “tertinggal” dari negara lainnya.
IMG-GenMktg Industri 4.0Baru-baru ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Rakornas (Rapat Koordinasi Nasional) yang pertama dalam tahun 2019 ini, di mana dibahas juga perihal berbagai strategi menyatukan faham dan langkah semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat pariwisata dalam menghadapi perubahan yang terjadi menuju Industri 4.0 tersebut.
Di bawah ini kami sajikan sebuah tulisan tentang Industri 4.0 karya Wuryastuti Sunario, salah seorang anggota dan mantan ketua Care Tourism, berjudul “Generational Marketing”. Selamat membaca, semoga bermanfaat menambah informasi tentang Era Industri 4.0.

Generational Marketing: Mengenal Profil Wisatawan berbagai Generasi
Oleh
Wuryastuti Sunario

Bagian 1.
Melayani Millennials dan Baby Boomer

Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, Konsumen tidak saja menjadi ratu atau raja, tetapi telah menjadi penguasa pasar. Banyak perusahaan, – raksasa sekalipun -, yang mengabaikan perobahan besar ini telah merugi bahkan terpaksa bangkrut. Sebaliknya perusahaan yang memenuhi harapan zaman, justru dicari khalayak ramai dan popularitasnya melambung. Contohnya Go-Jek, Grab, Traveloka, Tokopedia. Mengapa? Sebab mereka telah memenuhi keinginan konsumen yaitu: kecepatan, proses sederhana, nyaman, dan biaya terjangkau, maka startups berkembang menjadi unicorns yang melejit popularitasnya dan menyisihkan dalam sekejap mata saja perusahaan taxi, mall dan travel agents konvensional . Continue reading

Wonderful Indonesia Digital Tourism


Pada tanggal 28 Februari – 1 Maret 2019, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata I Tahun 2019 dengan tema besar “Wonderful Indonesia Digital Tourism (WIDT) 4.0” – ‘Transforming Tourism Human Resources to Win The Global Competition in The Industry 4.0 Era’.

https://caretourism.files.wordpress.com/2019/03/w-i-d-t-4.0.pdfRakornas diselenggarakan dalam upaya mempersatukan tekad mencapai target 20 juta wisatawan mancanagera (wisman) 2019, bertempat di Hotel Sultan, Jakarta, yang dikemas sangat digital dengan tujuan memperkuat sumber daya manusia (SDM) pariwisata agar mampu memenangkan kompetisi global di Era Industri 4.0. Demikian kentalnya unsur digital yang mengemasnya, pembukaannya pun dilakukan dengan teknologi suara yang sangat digital.

Menghadirkan sejumlah narasumber antara lain Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Senior Manager Deloitte Samrat Bosye, Rektor Universitas Bina Nusantara Harjanto Prabowo, Head of ICT Center of Education Kemendikbud Gogot Suharwoto, serta sejumlah CEO perusahaan digital antara lain Bukalapak.com dan Traveloka.com, Rakornas I/2019 diikuti 500 peserta dari berbagai kalangan, seperti akademisi, industri pariwisata, pemerintah, komunitas, dan media yang disebut sebagai kekuatan Pentahelix pariwisata.

Suasana rakornas ditata dengan setting sangat digital dengan menghadirkan stand-stand digital di era industri 4.0, seperti Game Virtual, Adventure Virtual dan sejenisnya. Sebagai pembuka Rakornas, tampil di atas panggung artis penyanyi Lala Karmela membawakan lagu Khatulistiwa milik Chrisye. Continue reading

Mengenal Profil Wisatawan Millenial Asia – Bagian 1


Beberapa tahun terakhir ini perhatian kalangan pemasaran disibukkan dengan mempelajari fenomena yang dialami generasi “jaman now” yang mempunyai banyak perbedaan dari generasi sebelumnya. Tidak luput kalangan pariwisata pun, – termasuk pemerintah Indonesia -, mencoba memahami gejala yang dialami generasi tersebut. Beberapa waktu yang lalu saya menulis artikel tentang “Generasi Teknologi Informasi” yang diterbitkan di laman Lehmann.

img-20181218_2millenialsFakta menunjukkan bahwa kaum millenial ini akan semakin penting bagi kepariwisataan dunia pada umumnya, khususnya bagi Indonesia. Diperkirakan tahun 2019 ini jumlahnya akan meliputi tidak kurang dari 50% dari pergerakan wisatawan dunia yang meliputi kelompok usia 18-34 tahun. Sementara di Asia potensinya tidak kurang dari 57% dalam kelompok usia 15-34 tahun. Adapun pertumbuhan kaum millenial ini sangat pesat. Dewasa ini di Tiongkok saja wisatawan millenial diperkirakan mencapai 333 juta. Di zona ASEAN, wisatawan millenials terbesar berada di Indonesia dengan potensi 82 juta. Potensi Philippina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand diperkirakan berpotensi sekitar 19 juta. Inilah agaknya yang membuat pemerintah Indonesia juga berupaya untuk membidik pasar wisatawan millenial.

Continue reading

Derap Langkah Pariwisata Menggapai Sasaran 2019


Dalam upaya menggapai Sasaran 20 juta wisman di tahun 2019, pemerintah melakukan berbagai upaya mulai dari :

  • Kebijakan bebas visa bagi wisman asal beberapa negara pasar potensial;
  • Penataan Destinasi pilihan yg diprioritaskan pengembangannya, baik dengan sistem dan perangkat Destination Management Organization (DMO) maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta Badan Otoritas Pariwisata (BOP);
  • Pemberian dukungan kepada Destinasi yg menyelenggarakan acara wisata (tourist events);
  • Peningkatan aksesibilitas (khususnya udara) langsung ke Destinasi dari pasar wisata yg potensial;
  • Kegiatan pemasaran di berbagai lokasi pasar pariwisata potensial, tidak hanya dlm format pencitraan (image promotion atau disebut juga branding promotion), melainkan juga dlm  format penjualan (dlm bentuk “table top” meets, di mana penjual langsung bertemu para pembeli);
  • indonesia-travel-xchange

    Indonesia Tourism e-Xchange

    Di atas semua itu, yg tidak luput dilakukan Kementerian Pariwisata adalah “Pengadaan Sarana Pasar Wisata Digital (Online Market Place) dengan sebutan ITX (Indonesia Tourism eXchange) yg disediakan bagi para “Penjual Produk Wisata” maupun para “Pembeli”;

  • Pembangunan dan pembenahan sarana dan prasarana pariwisata pun tidak pula dilupakan, mengingat sarana dan prasarana merupakan unsur utama produk wisata yang kita kenal dengan singkatan 3A (Atraksi, Akses dan Amenitas).

Continue reading