Idealisme Pengembangan Pariwisata Bertanggung Jawab


Pada hakekatnya Titik Fokus pengembangan pariwisata bertanggung jawab adalah pada terwujudnya Sustainable Tourism Development (Pengembangan Kepariwisataan Berkelanjutan).

Berbagai pertimbangan sebagai landasan pemikirannya adalah:

  • Manfaat    : Pengembangan Responsible Tourism agar diupayakan bermanfaat bagi masyarakat lokal; pemerintah (pusat/daerah); wisatawan; masyarakat secara umum;
  • Innovasi    : Menciptakan kreativitas mencari cara/methode baru menuju perbaikan produk wisata, kesejahteraan penduduk setempat; meredam dampak negatif pada lingkungan alam dan budaya;
  • Desa WisataPengalaman     : Menghadirkan pengalaman yang unik untuk wisatawan dengan melakukan pengalaman yang realistik;
  • Dana        : Kesinambungan (sustainability) membutuhkan sumber pembiayaan (yang bisa berasal dari Pemerintah – Pusat/Daerah -, Swasta atau gabungan swasta dan pemerintah pusat/daerah);

Wujud Kegiatannya antara lain dapat berupa:

  • Membangun sarana akomodasi dengan sebanyak mungkin melibatkan pemodal dan karyawan lokal;
  • Menciptakan Program wisata dengan pola home-stay;

Dampak positif pengembangan pariwisata bertanggung jawab, antara lain:

Pengertian Istilah Industri Pariwisata


Dalam pembahasan tentang kepariwisataan, acapkali disebut-sebut istilah industri pariwisata. Banyak pihak yang hampir tidak bisa menerima pariwisata sebagai industri, padahal banyak literatur pariwisata di awal dasawarsa 1960-an sudah menyebutkan pariwisata sebagai industri.
Pemahaman tentang istilah “industri” itu sendiri dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang.

Pengertian Industri

  1. Bila kita mendengar istilah “industri” selalu dihubungkan dengan pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu “proses produksi” yang menghasilkan suatu produk, baik dalam kaitan perubahan bentuk, peningkatan nilai maupun kegunaannya.
  2. Namun dalam beberapa hal, istilah “industri” diartikan juga dalam Unsur Industri Pariwisatapengertian lebih modern: Sekumpulan usaha bidang produksi yang menghasilkan produk (barang atau jasa) yang sejenis. Misalnya industri ban, industri kimia, industri pharmasi, industri kertas, industri textil, industri perhotelan, industri catering (hidangan makan/minum), dsb.
  3. Di samping itu, istilah “industri” juga dapat diterapkan sebagai sebutan terhadap kelompok usaha produksi dengan proses yang sama, seperti industri batik, industri tenun, industri rekaman, industri tata busana (fashion), dsb. yang dewasa ini mendapat tempat dalam “industri kreatif”.

Industri Pariwisata

Dihubungkan dengan pengertian di atas, maka:
Industri Pariwisata, dapat diartikan sebagai: Sehimpunan bidang usaha yang Continue reading

Pertumbuhan Kepariwisataan Indonesia 2012


Pada tahun 2009 kedatangan wisman ke Indonesia baru mencapai 6.323.730 kunjungan (+1,43% dari tahun sebelumnya yaitu 6.234.497 dan hanya merupakan 79% dari target 8 juta).
Tahun 2012, setelah 3 tahun berselang, pencapaian kedatangan wisman tercatat 8.044.462 kunjungan yang menunjukkan kenaikan sebesar 5,16% dari tahun 2011 yang mencapai 7.649.731. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2003-2012), kunjungan wisman menunjukkan pertumbuhan sebesar 80,09%.

Masa Tinggal Rata-rata

Peta Indonesia_3Sejak tahun 2009 hingga 2012 masa tinggal rata-rata wisman menunjukkan kecenderungan yang menurun, sementara pengeluaran (expenditure) mereka per hari/orang menunjukkan trend meningkat walau relatif kecil, hal ini menunjukkan kepada kita bahwasanya biaya tinggal di Indonesia relatif semakin mahal sejak tahun 2009 s/d 2012, di samping biaya perjalanan secara Continue reading

Wisata Nusantara dan Wisata Nasional – Lanjutan


Dalam artikel terdahulu diuraikan tentang pemahaman kepariwisataan yang direkomendasikan oleh WTO untuk digunakan oleh anggotanya, khususnya dalam kaitan dengan penyusunan dan penyajian statistik kepariwisataan negaranya dengan menggunakan kriteria yang seragam tentang berbagai jenis dan bentuk kepariwisataan. Demikian juga bagi Indonesia berlaku hal yang sama.

Forms OfTourism_6.08Sebagai konsekuensi dari adanya pemahaman tersebut, maka agaknya perlu ditegaskan pemakaian istilah yang sesuai dengan pemahaman tersebut, agar tidak berlaru-larut dan menjadi salah kaprah.
Penegasan tersebut dipandang perlu tentang yang dimaksud dengan istilah (berikut pengertiannya), bahwa kegiatan yang terkait dengan Wisatawan Nusantara, – yang melakukan wisata di Tanah Air (wisnus) -, sebagaimana yang kita fahami selama ini merupakan padan kata dari Home Tourism, bukan lagi sebagai padan kata dari Domestic Tourism yang padan katanya adalah Pariwisata Domestik (Wisata domestik, Kepariwisataan domestik) mengingat Continue reading

Perkembangan Organisasi Pariwisata Nasional Indonesia


Baru-baru ini, tepatnya tanggal 19 Oktober 2011 telah terjadi perubahan kabinet (reshuffle) yang ditandai dengan pergantian beberapa menteri serta pergeseran beberapa menteri lainnya. Pergeseran Menteri Kebudayaan dan Pariwisata termasuk yang menjadi pusat perhatian bukan saja karena pergantian menterinya, melainkan juga karena terjadi pula perubahan nama kementeriannya yang semula disebut Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Perubahan nama ini sedikit banyaknya mengisyaratkan kepada kita bahwa akan ada perubahan struktur organisasi internal yang akan mencerminkan fungsi baru daripada lembaga tersebut, di samping berkurangnya fungsi lainnya yang di-“kembalikan” ke lembaga induknya semula, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Care TourismPada tahun 2009, saat terbentuknya Kabinet Indonesia Bersatu Ke-II, terjadi perubahan nama semua departemen menjadi kementerian, meskipun tidak disertai perubahan struktur organisasinya selain adanya tambahan jabatan eselon satu setingkat sekjen dan dirjen, yaitu Wakil Menteri di beberapa kementerian. Dalam kaitan itu, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pun berganti nama menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Continue reading

Kunjungan Wisman Ke Indonesia 2011


Hingga bulan Agustus 2011, catatan kunjungan wisman ke Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat, baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya maupun ditinjau dari perkembangannya dari bulan ke bulan terhadap periode yang sama tahun 2010.

pengertian pariwisata

Table-I

Dari Januari s/d Agustus 2011 kunjungan wisman mencapai jumlah 4,964,167 dari 4,625,550 dalam periode yang sama 2010, yang mencerminkan kenaikan 7.32%. Dalam perjalanannya dari bulan ke bulan kenaikannya bervariasi dari yang terendah 0.03% yang terjadi pada bulan Mei 2011 dan tertiggi pada bulan Juli dengan kenaikan 13.21% dibanding bulan yang sama tahun 2010 (Table-I).

Prospeknya menjelang akhir tahun.

Ditinjau dari kenyataan selama 10 tahun terakhir, selama 8 bulan pertama tiap tahun secara Continue reading

Beautiful Indonesia For Peaceful World


Tanggal 27 September merupakan Hari Pariwisata Dunia yang ditetapkan oleh UNWTO (United Nations World Tourism Organisation). Secara kebetulan Hari Pariwisata Nasional Indonesia juga jatuh pada tanggal yang sama. Apa fasal?
Saat Hari Pariwisata Nasional ditetapkan, pariwisata berada di bawah satu atap dengan Postel yang Hari Jadi-nya tanggal 27 September, dengan nama Departeman Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (DepParPostel), maka jadilah tanggal tersebut sebagai Hari Jadi Pariwisata juga. Itu terjadi sebelum dipisahkan dari PosTel dan di-satu atap-kan dengan Kebudayaan menjadi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (DepBudPar) yang dewasa ini bernama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (KemenBudPar). Dengan demikian, jika Indonesia merayakan 27 September sebagai Hari Pariwisata, bukan hanya berarti dalam kaitan dengan kepentingan nasional belaka, melainkan juga kepentingan dunia. Dewasa ini banyak negara di dunia yang menetapkan tanggal 27 September sebagai Hari Pariwisata mereka.
Dalam kaitan peringatan Hari Pariwisata Dunia tersebut, yang dipusatkan di Aswan, Mesir, para ahli kepariwisataan dan kebudayaan dunia mengadakan suatu perbincangan dan menggaris-bawahi adanya kebutuhan akan keterlibatan (involvement) dan menyertakan (engagement) masyarakat setempat (local community) dalam pengembangan kepariwisataan.
Perbincangan tersebut merupakan salah satu acara yang dihadiri oleh berbagai pemikir (think tank) tingkat tinggi yang membahas thema peringatan Hari Pariwisata 2011, yaitu Tourism – Linking Cultures, Kepariwisataan – Perekat Kebudayaan, di mana I Gde Ardika, mantan Menteri BudPar, termasuk yang terdapat dalam daftar hadir.
Pada kesempatan itu para pemimpin industri, Menteri Pariwisata dan akademisi, Continue reading

MENGENAL MOTIVASI PERJALANAN WISATA | Bagian-1


Dalam pengelolaan kepariwisataan dikenal adanya beberapa motivasi yang mendorong seseorang melakukan perjalanan wisata, yang pada garis besarnya lazim dikelompkkan dalam dua Kelompok Besar, yaitu:

1.  Pariwisata Bisnis (Business Tourism); dan

2.  Pariwisata Pesiar (Pleasure atau Leisure Tourism).

Kita mengenal pada awal pergerakan manusia, perjalanan semula dilakukan untuk maksud-maksud mencari nafkah, – seperti berburu, menangkap/memancing ikan dsb. -, di samping untuk maksud perdagangan, – yaitu dalam rangka menjual atau menukarkan hasil buruan atau tangkapannya serta hasil bercocok tanam.

Kisah perjalanan pada masa-masa Colombus, Marco Polo, Vasco de Gama, Magelan, Amerigo Vespucci, dsb., menunjukkan bahwa perjalanan dilandasi juga atas kepentingan pengetahuan (science), dalam hubungannya dengan upaya membuktikan keyakinan tentang belahan bumi yang lain, selain yang mereka huni, yang kemudian disusul dengan motivasi perdagangan dan kunjungan resmi (official visit) juga. Pada akhirnya, motivasi perjalanan semakin berkembang sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan serta didukung pula oleh kemajuan teknologi, –  sebagai aplikasi dari  pada perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri -. dalam berbagai bidang antara lain bidang industri dan manajemen.

Dalam hal pengelolaan kepariwisataan, pengelompokkan motivasi perjalanan, – baik nusantara maupun mancanegara -, berperan sangat penting dalam hubungannya dengan penentuan kebijakan pengembangan produk pariwisata, – atraksi dan obyek wisata beserta fasilitas dan pelayanan yang diperlukannya -, agar dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan selera pasar pariwisata, seiring dengan kecenderungan pasar (market trend) baik pasar pariwisata nusantara maupun mancanegara, serta untuk kepentingan “penyesuaian” kebijakan pemasarannya terkait dengan perubahan perilaku pasar akibat dari pengaruh berbagai faktor yang terjadi di dunia pada umumnya, khususnya di negara pasar yang bersangkutan, maupun berbagai peristiwa yang terjadi di dalam negeri.

Dalam kenyataan, acapkali perjalanan dilakukan dengan lebih dari satu Continue reading

PENGERTIAN DASAR KEPARIWISATAAN


Bagi Anda yang telah mengalami “asam-garam” di bidang kepariwisataan pengertian dasar kepariwisataan bukan lagi merupakan masalah. Namun kami yakin banyak di antara kita yang masih belum faham berbagai istilah kepariwisataan yang acapkali kita jumpai sehari-hari, merupakan hal yang menimbulkan pengertian yang “kisruh”. Lihat saja contoh di bawah ini.

Salah satu istilah yang digunakan secara “resmi” sebagai nama sebuah kementerian, yaitu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang berwenang menangani “kebudayaan” dan “kepariwisataan“, tidak menggunakan istilah “kepariwisataan” melainkan “pariwisata“, berbeda halnya dengan istilah “kebudayaan” yang digunakannya secara berdampingan.
Sementara itu Undang-undang no. 10/Th 2009 (UU no.10/2009) disebutnya sebagai Undang-undang tentang “Kepariwisataan”. Di samping itu, kita sering mendengar dan membaca adanya istilah “obyek wisata” dan “atraksi wisata“. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak pihak yang mempertanyakan akan perbedaan antara wisata, pariwisata dan kepariwisataan. Atas dasar apa pilihan istilah wisata, pariwisata dan kepariwisataan itu digunakan?
Dengan diundangkannya UU no.10/2009 tentang Kepariwisataan, diharapkan penggunaan istilah-istilah itu dilakukan lebih tertib sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa sehingga tidak lagi menimbulkan pengertian yang membingungkan.
Di dalam BAB I Ketentuan Umum UU no.10/2009 ditetapkan berbagai ketentuan yang terkait dengan kepariwisataan, di antaranya sebagai berikut.

  • WISATA        : adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu tertentu;
  • WISATAWAN    : adalah orang yang melakukan wisata;
  • Continue reading

DAMPAK BENCANA ALAM PADA KEPARIWISATAAN


Di awal Oktober 2009 kita semua dikejutkan oleh peristiwa gempa Sumatera yang terjadi tidak lama berselang setelah gempa pantai selatan Jawa Barat. Sumatera Barat dan Jambi merupakan daerah yang secara bersamaan menderita musibah itu. Dalam peta pariwisata Indonesia, Sumatera Barat merupakan salah satu destinasi pariwisata yang populer di kalangan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara.

Tidak kurang dari ribuan bangunan, baik rumah tinggal, toko, pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah ibadah, sekolah, kampus banyak yang luluh lantak sebagai akibatnya, termasuk di antaranya hotel dan fasilitas pariwisata lainnya seperti terminal bandara, restoran, museum dan obyek wisata lainnya.

Melalui artikel ini Care Tourism menyampaikan rasa simpati serta prihatin kepada para korban dan keluarganya, dan belasungkawa kami sampaikan pula kepada para keluarga yang terkena musibah ditinggalkan oleh anggota keluarga dan kerabatnya.

Padang - Hotel AmbacangDi kota Padang, yang termasuk menderita terparah akibat gempa itu salah satu di antaranya adalah Hotel Ambacang, yang selama beberapa hari setelah gempa mendominasi pokok berita di berbagai media massa. Satu dan lain hal karena Hotel Ambacang selama ini bukan saja merupakan akomodasi sebagai tempat di mana para wisatawan bernaung dan menikmati liburannya, Continue reading