MENGENAL MOTIVASI PERJALANAN WISATA | Bagian-2


Di bawah ini kami sajikan kelanjutan artikel terdahulu, bagian ke-2 dari 2 bagian. Selamat mambaca.

2) PARIWISATA PESIAR (Pleasure atau Leisure Tourism)

Dalam artikel Bagian-1 telah diuraikan tentang jenis-jenis Pariwisata Bisnis (Business Tourism) yang terbagi dalam dua kelompok.

Demikian pula Pariwisata Pesiar, terbagi atas dua kelompok lebih lanjut, yaitu:

a) PARIWISATA BUDAYA (Cultural Tourism, yang antara lain meliputi: Historical, Educational, Family, Religious, Sport dll.);

Historical: Pada dasarnya kelompok motivasi ini mengutamakan kunjungan ke situs-situs sejarah atau dengan maksud mendalami sejarah negara yang dikunjunginya;

Educational: Dalam hal ini, maksud kunjungan kelompok ini dengan minat pada pengembangan pengetahuan pribadi secara sistematis pragmatis, baik formal maupun informal. Misalnya dengan cara mengunjungi tempat-tempat dan/atau melakukan kegiatan yang mengandung nilai-nilai edukatif.

Family Visit: Motivasi kunjungan ini paling banyak dilakukan oleh wisatawan nusantara (wisnus) tanpa menutup kemungkinan dilakukan juga Continue reading

PENGERTIAN DASAR KEPARIWISATAAN


Bagi Anda yang telah mengalami “asam-garam” di bidang kepariwisataan pengertian dasar kepariwisataan bukan lagi merupakan masalah. Namun kami yakin banyak di antara kita yang masih belum faham berbagai istilah kepariwisataan yang acapkali kita jumpai sehari-hari, merupakan hal yang menimbulkan pengertian yang “kisruh”. Lihat saja contoh di bawah ini.

Salah satu istilah yang digunakan secara “resmi” sebagai nama sebuah kementerian, yaitu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang berwenang menangani “kebudayaan” dan “kepariwisataan“, tidak menggunakan istilah “kepariwisataan” melainkan “pariwisata“, berbeda halnya dengan istilah “kebudayaan” yang digunakannya secara berdampingan.
Sementara itu Undang-undang no. 10/Th 2009 (UU no.10/2009) disebutnya sebagai Undang-undang tentang “Kepariwisataan”. Di samping itu, kita sering mendengar dan membaca adanya istilah “obyek wisata” dan “atraksi wisata“. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak pihak yang mempertanyakan akan perbedaan antara wisata, pariwisata dan kepariwisataan. Atas dasar apa pilihan istilah wisata, pariwisata dan kepariwisataan itu digunakan?
Dengan diundangkannya UU no.10/2009 tentang Kepariwisataan, diharapkan penggunaan istilah-istilah itu dilakukan lebih tertib sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa sehingga tidak lagi menimbulkan pengertian yang membingungkan.
Di dalam BAB I Ketentuan Umum UU no.10/2009 ditetapkan berbagai ketentuan yang terkait dengan kepariwisataan, di antaranya sebagai berikut.

  • WISATA        : adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu tertentu;
  • WISATAWAN    : adalah orang yang melakukan wisata;
  • Continue reading