NILAI PLUS-MINUS WONDERFUL INDONESIA


Dalam artikel terdahulu diutarakan 5 (lima) hal yang menjadi andalan untuk kampanye Wonderful Indonesia sebagai branding baru bagi kepariwisataan Indonesia, yaitu:

  1. Wonderful Nature.
  2. Wonderful Culture.
  3. Wonderful People.
  4. Wonderful Food.
  5. Wonderful Value for Money.

Di samping perlunya dukungan kenyataan dalam lima hal tersebut di atas, penetapan branding tersebut membawa konsekwensi bagi kita semua, selaku pemangku kepentingan (stakeholder), untuk benar-benar mampu mewujudkan lima hal tersebut dalam bentuk unggulan bersaing (competitive advantage).
Dalam tatacara penilaian yang dilakukan WEF (World Economic Forum), tahun 2009 ditetapkan bahwa masing-masing kriteria yang mencapai tempat sampai dengan ke-50 teratas di antara 133, dinilai sebagai “competitive advantage” bagi destinasi yang bersangkutan. Sebaliknya, kriteria yang berada pada tempat di bawah 50 (51 s/d 133) sebagai unggulan (daya saing) yang tidak menguntungkan (competitive disadvantage) atau yang lebih condong dinilai sebagai unggulan komparatif (comparative advantage) yang masih memerlukan berbagai upaya pemolesan, penggarapan serta pengemasan agar menjadi competitive advantage.
Yang kemudian menjadi tantangan bagi kita adalah: Bagaimana seyogyanya Continue reading

WONDERFUL INDONESIA | Branding Baru Pariwisata Indonesia


Dalam kesempatan acara pelantikan DR. Riadika Mastra sebagai Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila (UP), beserta beberapa pejabat lainnya di lingkungan UP, bertempat di aula Fak. Hukum UP Lenteng Agung – Jakarta Selatan,  05 Januari 2011 yl., Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik SE, menyampaikan bahwa mulai tahun 2011 ini pariwisata Indonesia dipasarkan dengan branding baru “Wonderful Indonesia“. Banyak yang bertanya, mengapa Wonderful Indonesia? Menteri Jero Wacik menjelaskan, bahwa branding tersebut didasarkan pada beberapa kenyataan tentang Daya Tarik Pariwisata , – yang kita semua sudah faham -, yaitu:

  1. Wonderful Nature. Kenyataan menunjukkan bahwa alam Indonesia sangat kaya dengan keindahannya serta berbagai hasil bumi dan lautnya. Dari mulai ketinggian puncak gunung hingga ke dasar laut yang terdalam, dan dari pulau ke pulau yang terhampar dari Barat sampai ke timur, mengandung sumber alam serta keindahan sebagai potensi pariwisata yang luar biasa, tiada tandingannya.
  2. Wonderful Culture. Demikian juga halnya dengan kebudayaan yang kita miliki menampilkan keaneka ragamannya seiring dengan kebhinekaan bangsa dari Sabang sampai Merauke, dalam hal seni budaya, adat istiadat, bahasa, gaya dan cara hidup, dsb. yang sukar untuk ditandingi oleh negara mana pun di dunia.
  3. Wonderful People. Kehidupan bangsa Indonesia yang bertoleransi tinggi, ramah tamah dan senyum yang senantiasa menghias wajahnya, ditambah lagi dengan kehidupan demokratis merupakan salah satu “kekuatan” (strength) bagi kepariwisataan kita dalam kaitannya sebagai suatu Hospitality Industry.
  4. Wonderful Food. Tidak kalah pentingnya adalah potensi yang kita miliki dalam hal keragaman makanan dari yang tradisional sampai pada hidangan internasional yang mampu disajikan bagi para wisatawan selaku “tamu” kita. Bukan saja dalam segi keragaman makanannya, melainkan juga dalam tatacara penyajiannya yang beragam dari satu pulau ke pulau lainnya serta dari satu jenis makanan ke jenis makanan lainnya di seluruh tanah air.
  5. Wonderful Value for Money. Di atas semua itu, satu hal yang semua orang, – tidak terkecuali juga para wisatawan -, sangat berkepentingan dengan nilai uangnya, terutama yang dibelanjakannya selama kunjungannya di Indonesia.

Menurut penilaian World Economic Forum (WEF) tahun 2009, dalam hal daya saing harga (price competitiveness) Indonesia menempati urutan ke-3 Continue reading

MEMBANGUN KEPARIWISATAAN INDONESIA BERBASIS KOMUNITAS (Lanjutan)


Dengan adanya pengembangan Desa Wisata, direncanakan dan diupayakan agar tumbuh klaster-klaster berupa desa-desa yang menjadi basis pemasok berbagai kebutuhan desa wisata yang bersangkutan seperti pemasok bahan baku dan/atau kerajinan, pemasok produk pendukung, basis pertanian serta basis kesenian lokal dsb. Dengan demikian pula akan tumbuh kebutuhan terhadap basis supply sumberdaya manusia (basis SDM), baik untuk memenuhi kebutuhan desa wisata itu sendiri maupun kebutuhan SDM bagi basis pemasok di sekitar desa wisata tersebut, sehingga kualitas SDM pariwisata dapat terpelihara pada tingkat mampu bersaing.
Demikian pula dalam hal pengembangan DTW, perlu dikembangkan “basis SDM” yang mampu memasok klaster DTW itu sendiri di samping memenuhi kebutuhan desa-desa di sekitarnya yang menjadi klaster pemasok berbagai kebutuhan DTW dimaksud.
Sekedar sebagai ilustrasi, jika suatu hotel beroperasi di suatu DTW, seyogyanya dapat berperan dan berfungsi juga sebagai “basis SDM” bagi desa-desa di sekitarnya, terutama dalam hal peningkatan pengetahuan, skill serta selaku motivator perubahan perilaku agar masyarakat di desa yang bersangkutan, – di sekitar hotel -, mampu menjadi masyarakat mandiri dengan bekal berbagai pengetahuan, ketrampilam serta mentalitas sebagai “tuan rumah dan/atau pengusaha yang baik”. Tentu saja, Dinas Pariwisata setempat (jika ada), dapat bertindak sebagai fasilitator dalam program tersebut.
Masalahnya yang kemudian harus diatasi adalah tersedianya tenaga staf Continue reading

MENYONGSONG 8 JUTA WISMAN DI TAHUN 2009 (Bagian-II)


Dalam tulisan terdahulu telah disampaikan bahwa rakor Depbudpar merencanakan target 8 juta wisman di tahun 2009. Namun, dengan pertimbangan kondisi ekonomi global dewasa ini target 8 juta dinilai terlampau optimis, sehingga akhirnya ditetapkan target moderat 6.500.000, yang menurut hemat kami agak “pesimis”, mengingat tahun 2008 telah mencapai angka (sementara) 6.433.509. Target tersebut, menunjukkan “seakan-akan” pemerintah “tidak akan berbuat apa-apa” alias “menyerah” pada kondisi krisis. Menurut hitungan Care Tourism angka Trend (polynomial, 2000-2012) untuk tahun 2009 menunjukkan 6.758.230, dengan assumsi semua kondisi di tahun 2009 adalah sama dengan 2008, termasuk “upaya promosi” baik yang dilakukan pemerintah maupun pihak lainnya. Kalaupun sekiranya pemerintah “merasa pesimis”,  sekurang-kurangnya angka trend itu layak ditetapkan sebagai target, yang minimal masih menunjukkan laju pertumbuhan 5,05%, melalui upaya pemasaran yang akan dilakukannya, seperti diuraikan di bawah ini.

Kecenderungan (trend) Wisman ke Indonesia

Dalam upayanya mencapai target 2009, pemerintah akan menerapkan berbagai strategi lainnya, di samping “Push Strategy” dan “Pull Strategy” yang diutarakan dalam artikel terdahulu, sebagai berikut.

Dalam hubungan antara sisi produk dengan sisi permintaan pasar, Continue reading

MENEROPONG POTENSI PARIWISATA INDONESIA


Dalam Rakor (Rapat Koordinasi) Depbudpar (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) awal Desember 2008, dinyatakan bahwa kegiatan kampanye Tahun Kunjungan Wisata (Visit Indonesia Year, VIY) akan dilanjutkan pada tahun 2009. Dengan demikian kita memahami bahwa kampanye pariwisata akan merupakan suatu kegiatan “serial” multi-year, mungkin tidak hanya terbatas pada tahun 2008 dan 2009 belaka, melainkan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya juga, dengan harapan persiapan dan pendanaannya akan semakin baik. Terutama bila kita sadari bahwa kegiatan pariwisata tidak hanya terbatas pada kampanyenya semata, melainkan juga penyediaan fasilitas (daya angkut, daya tampung hotel dan daya dukung lingkungan); pelayanan (kualitas maupun kuantitas SDM, profesionalsme, kecepatan, kecermatan, ketrampilan dan keramahan); serta atraksi wisata yang “sungguh-sungguh disiapkan” untuk menerima wisatawan, baik wisman (wisatawan mancanegara) maupun wisnus (wisatawan nusantara).

Dalam hubungan itu, berikut ini saya kutip pernyataan Direktur Jenderal Pemasaran, Sapta Nirwandar, yang dimuat dalam Kata Pengantar kertas kerjanya berjudul “STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA 2009” sbb:

Tanpa penyiapan produk yang berkualitas bisa menyebabkan pemasar mengingkari janji tentang kualitas produk yang ditawarkan yang pada gilirannya akan menuai ketidak percayaan dari wisman yang berkunjung ke Indonesia.

Agaknya sudah dapat kita pastikan, kita tidak menghendaki hal itu terjadi, bukan? Oleh karenanya, agar kita dapat mencapai target-target tertentu, perlu kiranya kita semua bertekad, apa yang akan dan perlu dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung? Pihak Pemerintah, eksekutif dan legislatif baik pusat maupun daerah, pihak industri pariwisata, industri / usaha-usaha penunjang, serta masyarakat pada umumnya.

Untuk itu, kita perlu saling mendukung, bahu membahu dan bergandeng tangan, demi suksesnya pariwisata tanah air. Antar instansi Pemerintah Pusat, antar instansi pemerintah daerah, baik di daerahnya maupun lintas daerah, antara instansi pemerintah pusat dengan instansi daerah, antara pemerintah (pusat dan daerah) dengan kalangan industri pariwisata dan lintas sektoral, antar anggota kalangan industri pariwisata, dst, dst.

Sebelum itu, sebagai titik tolak, perlu kita lihat di mana posisi pariwisata kita setelah VIY-2008 berakhir? Untuk itu beberapa pertanyaan di bawah ini perlu dijawab agar dapat memperoleh “Peta kekuatan” pariwisata Indonesia.

Seni Budaya Belitung

Seni Budaya Belitung

1. Di antara 33 provinsi, manakah yang benar-benar “siap” dengan produknya yang akan ditawarkan?
2. Di antara provinsi yang siap dengan produknya, apa yang banyak diminta pasar (pesiar/bisnis, budaya/alam)?
3. Di antara produk yang banyak diminta pasar, apa yang menonjol untuk dijadikan “unggulan” sebagai icon?
4. Di antara produk-produk yang ditawarkan, produk apa yang banyak diminta dan dari pasar yang mana?
5. Di antara profinsi yang “belum siap”, apa yang merupakan kekurangannya sehingga dapat dirujuk untuk perbaikan / penyempurnaan.
6. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, manakah yang benar-benar siap menerima wisatawan dalam skala besar?
7. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, bagaimana mengemasnya dalam paket-paket wisata nasional agar saling melengkapi (complement-to-each-other), bukan bersaing satu dengan lainnya, melainkan untuk bersama-sama dipasarkan.
Daftar pertanyaan di atas bisa ditambah lebih panjang.

Pada umumnya Pemerintah Provinsi menginginkan daerahnya masing- Continue reading