41-TH Pasang Surut Kunjungan Wisman


Tidak terasa masa begitu cepat berlalu. Sejak Akhir Repelita-I (1974) kepariwisataan Indonesia telah menempuh jalan panjang selama 41-tahun. Kinerja yang dicapainya pun mengalami pasang surut yang dipengaruhi berbagai faktor baik yang datang dari luar (external) maupun dari dalam negeri sendiri (internal).
Pada dasarnya faktor external secara umum berada di luar kendali kita sehingga tidak mudah untuk kita upayakan mengubahnya, walaupun dengan cara tersendiri secara logika sebenarnya dapat disiasati agar menjadi “peluang” ketimbang dibiarkan sebagai “kendala” atau “hambatan”.

Siklus Kehidupan Pariwisata Indonesia

Perjalanan panjang 41-tahun kepariwisataan Indonesia yang mengalami pasang surut itu dapat memberikan gambaran bagaimana gerangan Siklus Kehidupan Pariwisata (Tourism Life-Cycle) Indonesia itu berlangsung dengan menggunakan model Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, sebagai pembanding. Kita lihat gambarannya sebagai berikut:

  • TourismLifeCycleIntroduction Stage. Pada akhir Pelita-I (1974) Arus Kunjungan Wisman ke Indonesia baru mencapai angka 313.452 pengunjung. Sebelas tahun kemudian (1985) mencapai angka 825.035 pengunjung, dengan mencatat tingkat pertumbuhan rata-rata 8.33% per tahun. Dengan pertumbuhan yang moderat seperti itu memberikan gambaran seperti Masa Perkenalan (Introduction Stage) dalam grafik suatu Siklus Kehidupan Produk (Product Life-Cycle) pada umumnya, dengan garis kenaikannya yang “landai”.

Continue reading

Membaca Kebijakan Pariwisata 2015-2019


Bulan Februari yang lalu, Kementerian Pariwisata memberitakan pencapaian kinerja pariwisata di tahun 2014. Di samping perolehan Wisman sejumlah 9.435.411 juga dilaporkan perolehan Devisa Pariwisata sebanyak US$ 10.69 milyar, Kontribusi Pariwisata pada Perekonomian Nasional (Produk Domestik Bruto = PDB) sebesar 4,01%, dan sejumlah 10,3 juta orang Tenaga Kerja Pariwisata serta Peringkat Daya Saing Pariwisata (versi World Economic Forum = WEF) di posisi ke-70 di antara 140 Negara Tujuan Wisata Dunia yang dinilai tahun 2013.
Dalam kaitan dengan pelaksanaan Rencana Kerja Kementerian (RKK), maka Kemenpar menetapkan pencapaian sasaran pengembangan kepariwisataan di tahun 2015, bukan hanya jumlah wisman 10 juta, melainkan juga wisnus 254 juta dan perolehan devisa pariwisata US$ 12.05 milyar, pengeluaran wisnus Rp. 201.5 trilyun, serta sebanyak 11.3 juta orang tenaga kerja pariwisata.
Berpijak pada perolehan tahun 2014, secara makro target 2019 kontribusi pariwisata

Sasaran 2015-2019

Sasaran 2015-2019

terhadap PDB nasional akan menjadi 8%, devisa pariwisata Rp 240 triliun, 13 juta peluang kerja pariwisata, kunjungan wisman 20 juta dan wisnus 275 juta, serta daya saing pariwisata Indonesia pada peringkat 30 besar dunia, seperti Tabel-I berikut. 1*)

Kunjungan Wisman

Target Wisman 2015

Grafik-I

Sebagaimana diutarakan dalam artikel terdahulu, sasaran 20 juta wisman di tahun 2019 Continue reading

Implikasi Penetapan Sasaran 20 Juta Wisman – 2019


Dalam Visi-Misinya, Jokowi-JK mencanangkan Sasaran Wisman mencapai 20 juta di tahun 2019. Dilihat dari berbagai sudut, mungkinkan sasaran itu kita capai, perlu kiranya kita bersama mengkajinya.
Menurut pandangan berbagai kalangan pariwisata di Indonesia, sasaran itu dinilai “cukup berani” mengingat untuk mencapai sasaran 20 juta wisman dalam tempo 5-tahun mendatang (terhitung mulai 2015), menurut hitungan Care Tourism, dengan demikian kita harus mampu mencapai tingkat pertumbuhan kedatangan wisman sebanyak 16.06% per tahun, dengan dasar target tahun 2014 (9,5 juta), maka dalam 5 tahun mendatang jumlah wisman yang harus diraih adalah seperti tertera dalam Grafik berikut:

Target Wisman

Target dan Kecenderungan Alami Wisman, 2015-2019

Sementara itu, melihat kecenderungan dari Januari s/d Juli 2014, diperkirakan tahun 2014 ini maximal akan mencapai 9,7 juta, dan apabila kita mentargetkan 2015 sejumlah 11.025.700 wisman, maka berarti sebanyak 1.325.700 tambahan wisman yang harus diraih pada 2015, dan untuk itu kita hanya dapat mengandalkan “dampak” daripada promosi yang sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya 2013 s/d Agustus 2014, mengingat dewasa ini kita berada dalam bulan September, dan untuk sisa waktu 2014 program promosi dan anggarannya sudah ditetapkan, kecuali jika ada “tambahan anggaran”, maka sedikitnya akan dapat diupayakan promosi tambahan untuk “mendongkrak” arus wisman tersebut yang diharapkan datang di tahun 2015.

Dukungan Sisi Penawaran

Dengan mentargetkan kunjungan wisman seperti di atas, kita dihadapkan pada persoalan kebutuhan daya dukung tambahan berupa kapasitas kursi penerbangan internasional langsung ke berbagai destinasi lain di luar Bali, Jakarta dan Batam, yang Continue reading

Pergeseran Pandangan Masyarakat Atas Kepariwisataan


Upaya pengembangan kepariwisataan suatu negara pada hakekatnya bermaksud dan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tolok ukurnya bisa terdiri dari berbagai macam kriteria.

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Fluktuasi Wisman Jan-Jun 2014

Tidak melulu dalam bidang kesejahteraan ekonomi semata, melainkan juga dalam segi-segi kehidupan lainnya, seperti kesejahteraan sosial, budaya, jasmani, rohani, dsb. yang akhirnya bermuara pada peningkatan martabat masyarakat dan bangsa yang bersangkutan. Jika kita mengadakan kilas balik ke beberapa puluh tahun yang lalu menelusuri jejak perkembangan kepariwisataan di tanah air, maka akan kita jumpai beberapa pergeseran penilaian dan pandangan yang, pada saat itu, menghadapkan kita pada pilihan yang acapkali bertentangan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Penilaian Negatif Masyarakat

Pada awal masa pengembangan kepariwisataan di era 1950-an, banyak kalangan berpandangan yang bernada kurang setuju (negatif) dengan perkembangan yang terjadi di berbagai bidang akibat pengembangan kepariwisataan. Di Bali misalnya, kehidupan masyarakatnya yang terbiasa dengan telanjang dada, baik pria maupun wanita, dinilai – terutama wanitanya – bertentangan dengan norma agama dan ketimuran untuk di-“pamerkan” sebagai atraksi pariwisata. Padahal sejak zaman pendudukan Belanda, Continue reading

Pertumbuhan Kepariwisataan Indonesia 2012


Pada tahun 2009 kedatangan wisman ke Indonesia baru mencapai 6.323.730 kunjungan (+1,43% dari tahun sebelumnya yaitu 6.234.497 dan hanya merupakan 79% dari target 8 juta).
Tahun 2012, setelah 3 tahun berselang, pencapaian kedatangan wisman tercatat 8.044.462 kunjungan yang menunjukkan kenaikan sebesar 5,16% dari tahun 2011 yang mencapai 7.649.731. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2003-2012), kunjungan wisman menunjukkan pertumbuhan sebesar 80,09%.

Masa Tinggal Rata-rata

Peta Indonesia_3Sejak tahun 2009 hingga 2012 masa tinggal rata-rata wisman menunjukkan kecenderungan yang menurun, sementara pengeluaran (expenditure) mereka per hari/orang menunjukkan trend meningkat walau relatif kecil, hal ini menunjukkan kepada kita bahwasanya biaya tinggal di Indonesia relatif semakin mahal sejak tahun 2009 s/d 2012, di samping biaya perjalanan secara Continue reading

Kiat Menjadikan Museum Sebuah Pesona Wisata


Kita mengenal banyak sekali museum yang ada di tanah air ini. Di antara sekian banyaknya, hanya beberapa saja yang dimiliki pihak swasta dan/atau masyarakat. Sebagian besar adalah milik pemerintah, – baik Pusat maupun Daerah -, yang pada umumnya mengemban  fungsi minimal sebagai :

  • sarana penyimpanan, pemeliharaan dan pelestarian berbagai benda purbakala;
  • sarana informasi sejarah, baik lokal, daerah maupun nasional;
  • sarana pendidikan bagi generasi masyarakat dan bangsa dari masa ke masa;

Dalam melaksanakan ketiga fungsi tersebut museum milik pemerintah membiayai dirinya dari anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah. Di Museum sebagai Pesona Wisatasamping itu, mereka tidak dibenarkan atau tidak diperbolehkan memungut biaya lebih dari yang ditetapkan oleh pemerintah dengan pertimbangan bahwa museum bersifat sosial. Oleh karena itu tarif tanda masuk ke museum rata-rata di Indonesia berada pada tingkat sangat rendah, sedemikian rendah sehingga jauh dari memadai, sekalipun untuk menutup biaya Continue reading

Mengukur Kapasitas Produksi Pariwisata


Tahun 2011 sudah berlalu, kini kita berada di tahun 2012, namun data kunjungan wisman ke Indonesia belum juga mencapai angka 8 juta. Di awal Februari 2012 tercatat jumlah kunjungan wisman 2011 menunjukkan angka 7,649,731 (www.bps.go.id, 2 Feb. 2012), yang berarti mengalami kenaikan 9.24% dibanding periode yang sama tahun 2010. Dalam suatu kesempatan, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (ketika itu, Jero Wacik) mengemukakan optimismenya bahwa kunjungan wisman akan dapat mencapai angka 7,7 juta (Journal Pariwisata Indonesia, edisi Oktober 2011). Angka itu merupakan kenaikan 10% dari angka wisman 2010 yaitu 7.0 juta. Bulan Desember 2011 yang lalu Care Tourism memperkirakan kunjungan dalam 2011 paling tinggi akan mencapai sekitar 7,634,000, mengingat kunjungan dalam bulan November 2011 hanya mencapai angka 654,948, padahal di bulan November 2011 Indonesia adalah penyelenggara SEA-Games XXVI yang nampaknya sama sekali tidak berpengaruh pada pariwisata kita.  Kunjungan wisman 2011 VisitorTrend_2011sejumlah 7,649,731 tersebut menunjukkan pertumbuhan yang tidak jauh daripada kecenderungan yang tergambar pada garis trend tahun 2011, yaitu Continue reading

Kunjungan Wisman Ke Indonesia 2011


Hingga bulan Agustus 2011, catatan kunjungan wisman ke Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat, baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya maupun ditinjau dari perkembangannya dari bulan ke bulan terhadap periode yang sama tahun 2010.

pengertian pariwisata

Table-I

Dari Januari s/d Agustus 2011 kunjungan wisman mencapai jumlah 4,964,167 dari 4,625,550 dalam periode yang sama 2010, yang mencerminkan kenaikan 7.32%. Dalam perjalanannya dari bulan ke bulan kenaikannya bervariasi dari yang terendah 0.03% yang terjadi pada bulan Mei 2011 dan tertiggi pada bulan Juli dengan kenaikan 13.21% dibanding bulan yang sama tahun 2010 (Table-I).

Prospeknya menjelang akhir tahun.

Ditinjau dari kenyataan selama 10 tahun terakhir, selama 8 bulan pertama tiap tahun secara Continue reading

ANDAIKATA WISMAN DILARANG DATANG


Hampir semua Negara di dunia berupaya mengembangkan kepariwisataannya, mengingat kepariwisataan sangat dipercaya sebagai sumber devisa dan mendatangkan berbagai manfaat, baik manfaat ekonomi maupun manfaat lainnya seperti hubungan perdagangan, politik, social budaya yang membawa persahabatan antar bangsa dari kepariwisataan mancangara. Dalam hal manfaat ekonomi yang acapkali diperbincangkan antara lain pendapatan nasional sebagai dampak dari akumulasi berbagai transaksi yang terjadi karena uang yang dibelanjakaan wisman selama di Negara yang dikunjunginya.

Berbagai transaksi ekonomi itu membawa manfaat langsung kepada masyarakat. Namun bukan berarti mayarakat menerima mata uang asing secara langsung, – walaupun mungkin ada yang menerima langsung seperti pramuwisata, hotel, maskapai penerbangan, yang seringkali dibayar dalam mata uang Negara asal wisman tersebut.

Masyarakat petani, peternak, nelayan, karyawan hotel, restoran, biro perjalanan, taksi dan angkutan lainnya, pengrajin souvenir, pramuwisata, Continue reading

MENEROPONG POTENSI PARIWISATA INDONESIA


Dalam Rakor (Rapat Koordinasi) Depbudpar (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) awal Desember 2008, dinyatakan bahwa kegiatan kampanye Tahun Kunjungan Wisata (Visit Indonesia Year, VIY) akan dilanjutkan pada tahun 2009. Dengan demikian kita memahami bahwa kampanye pariwisata akan merupakan suatu kegiatan “serial” multi-year, mungkin tidak hanya terbatas pada tahun 2008 dan 2009 belaka, melainkan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya juga, dengan harapan persiapan dan pendanaannya akan semakin baik. Terutama bila kita sadari bahwa kegiatan pariwisata tidak hanya terbatas pada kampanyenya semata, melainkan juga penyediaan fasilitas (daya angkut, daya tampung hotel dan daya dukung lingkungan); pelayanan (kualitas maupun kuantitas SDM, profesionalsme, kecepatan, kecermatan, ketrampilan dan keramahan); serta atraksi wisata yang “sungguh-sungguh disiapkan” untuk menerima wisatawan, baik wisman (wisatawan mancanegara) maupun wisnus (wisatawan nusantara).

Dalam hubungan itu, berikut ini saya kutip pernyataan Direktur Jenderal Pemasaran, Sapta Nirwandar, yang dimuat dalam Kata Pengantar kertas kerjanya berjudul “STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA 2009” sbb:

Tanpa penyiapan produk yang berkualitas bisa menyebabkan pemasar mengingkari janji tentang kualitas produk yang ditawarkan yang pada gilirannya akan menuai ketidak percayaan dari wisman yang berkunjung ke Indonesia.

Agaknya sudah dapat kita pastikan, kita tidak menghendaki hal itu terjadi, bukan? Oleh karenanya, agar kita dapat mencapai target-target tertentu, perlu kiranya kita semua bertekad, apa yang akan dan perlu dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung? Pihak Pemerintah, eksekutif dan legislatif baik pusat maupun daerah, pihak industri pariwisata, industri / usaha-usaha penunjang, serta masyarakat pada umumnya.

Untuk itu, kita perlu saling mendukung, bahu membahu dan bergandeng tangan, demi suksesnya pariwisata tanah air. Antar instansi Pemerintah Pusat, antar instansi pemerintah daerah, baik di daerahnya maupun lintas daerah, antara instansi pemerintah pusat dengan instansi daerah, antara pemerintah (pusat dan daerah) dengan kalangan industri pariwisata dan lintas sektoral, antar anggota kalangan industri pariwisata, dst, dst.

Sebelum itu, sebagai titik tolak, perlu kita lihat di mana posisi pariwisata kita setelah VIY-2008 berakhir? Untuk itu beberapa pertanyaan di bawah ini perlu dijawab agar dapat memperoleh “Peta kekuatan” pariwisata Indonesia.

Seni Budaya Belitung

Seni Budaya Belitung

1. Di antara 33 provinsi, manakah yang benar-benar “siap” dengan produknya yang akan ditawarkan?
2. Di antara provinsi yang siap dengan produknya, apa yang banyak diminta pasar (pesiar/bisnis, budaya/alam)?
3. Di antara produk yang banyak diminta pasar, apa yang menonjol untuk dijadikan “unggulan” sebagai icon?
4. Di antara produk-produk yang ditawarkan, produk apa yang banyak diminta dan dari pasar yang mana?
5. Di antara profinsi yang “belum siap”, apa yang merupakan kekurangannya sehingga dapat dirujuk untuk perbaikan / penyempurnaan.
6. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, manakah yang benar-benar siap menerima wisatawan dalam skala besar?
7. Di antara provinsi yang siap dipasarkan, bagaimana mengemasnya dalam paket-paket wisata nasional agar saling melengkapi (complement-to-each-other), bukan bersaing satu dengan lainnya, melainkan untuk bersama-sama dipasarkan.
Daftar pertanyaan di atas bisa ditambah lebih panjang.

Pada umumnya Pemerintah Provinsi menginginkan daerahnya masing- Continue reading